Kampung Inggris adalah julukan bagi salah satu kecamatan di Kediri, yaitu Pare. Namun, selain bahasa Inggris ternyata ada juga kursusan bahasa Arab di sana. Awalnya kukira di kampung Inggris itu semua orang benar-benar berbahasa Inggris, nyatanya tidak. Pare dijuluki Kampung Inggris karena di sana terdapat banyak sekali kursusan bahasa Inggris, jadi kalau ada yang bilang di sana semua orang berbahasa Inggris, tidak benar kurasa.
Hari-hari pertama di sana, terasa mengecewakan karena semua yang ada di sana tidak sesuai dengan yang kubayangkan. tapiiii walau demikian ada banyak sekali hal-hal bermanfaat yang kudapatkan di sana. Pengalaman-pengalaman kurang mengenakkan membuatku belajar untuk menjadi orang yang lebih sabar, berada jauh dari keluarga membuatku mengerti betapa berharganya saat-saat bersama mereka.
Jadi begini ceritanya, waktu itu aku benar-benar ingin sekali belajar bahasa Arab lebih banyak, karena pelajarana bahasa Arab di kampus amat sangat kurang menurutku, sebab aku adalah orang yang sangat tidak sabar jika ingin mengetahui sesuatu, aku tidak sabar menunggu hari esok untuk bisa segera belajar dan cepat cepat pandai, terlebih semasa SMA, jurusanku adalah IPA, masih begitu awam dengan bahasa Arab, jadi kuputuskan untuk cuti dan belajar di Kampung Inggris. Singkat cerita, setelah searching dan memutuskan untuk memilih salah satu lembaga kursus bahasa Arab yang ada di Pare, akupun berangkat.
Saat tiba di asrama, mungkin karena baru pertama kali tinggal dengan banyak orang yang belum kukenal, aku merasa amat sangat tidak nyaman dan ingin pulanggggg, tapi demi belajar, aku menahan semuanya dan berusaha bertahan.
Setiap hari aku belajar di sana, dan harus menyetorkan enam halaman mufrodat tiap harinya, dan setiap halaman tiga puluh mufrodat. Jadi, bayangkan saja harus berapa butir mufrodat yang harus disetorkan setiap hari, dannnnnn karena menghafal dengan tergesa-gesa pulalah hafalannya juga hilang dengan tergesa-gesa -______-. Kamar yang kecil dengan penghuni lima orang, sangat panas dan pengap. Kamar mandi yang sedikit, membuat kami harus antri, bahkan dari jam tiga subuh!, juga kegiatan belajar yang begitu padat dengan tugas tugas yang banyak. Namun perlahan tapi pasti aku mulai terbiasa dan menikmatinya.
Aku yang awalnya masih begitu kaku dengan bahas Arab, mulai mengerti sedikit demi sedikit, dan mulai mempraktekkan kosa kata yang kuhafalkan. Aku mencatat semua yang dikatakan oleh guru di buku dengan pensil, agar bisa dihapus dan dicatat ulang dengan rapih ketika pembelajaran selesai. Aku benar benar tidak ingin menyia-nyiakan waktuku di sana, walau masih ada saja waktu yang kucuri-curi untuk bermain Hp.
Cukup banyak ilmu yang kudapat di sana, sangat menyenangkan, dan bersyukur bisa ke sana. yup, dalam menuntut ilmu memang butuh perjuangan, perlu keluar dari zona nyaman, dan melapaskan diri dari bermanja-manja dengan kemalasan. Jika kau tidak mau menahan lelahnya menuntut ilmu, maka kau harus mampu menahan pahitnya kebodohan. - Imam Syafi`i -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar